Beranda FENOMENA Kisah Baia, Kota Maksiat Yang Tenggelam Di Dasar Lautan

Kisah Baia, Kota Maksiat Yang Tenggelam Di Dasar Lautan

6429
0
BERBAGI
judi online

Baia seperti Las Vegas pada era Kekaisaran Romawi Kuno. Sama-sama dijuluki ‘surga dunia’. Pada 2000 tahun lalu, disanalah kaum kaya dan berkuasa datang untuk memuaskan nafsu duniawi mereka.

orang-orang kaya Romawi menghabiskan akhir pekan mereka di kota itu. Tujuannya, untuk pesta pora. Mereka yang berkantong tebal dan punya kekuasaan membangun vula-vila mewah di area pantai, lengkap dengan spa dan kolam berlapis mozaik keramik yang berkilauan, demi memanjatkan hasrat terliar.

Salah satu warga berduit bahkan memerintahkan pembangunan nymphaeum, monumen dari batu, yang bentuknya mirip gua, dipenuhi patung-patung marmer, yang didedikasikan untuk ‘kenikmatan duniawi’.

Kota hiburan yang berjarak 30 kilometer dari Naples itu menjadi magnet untuk para penyair, jendral, siapapun.

Orator besar era Romawi Kuno, Cicero menyusun pidatonya di rumah peristirahatannya di dekat teluk. Sementara penyair Virgil dan naturalis Pliny punya rumah yang letaknya tak jauh dari pemandian umum yang konon bisa bikin awet muda.

Air dengan kandungan mineral dan iklim hangat menarik perhatian masyarakat Romawi kuno untuk mengunjungi Baia sejak pertengahan abad ke-2 sebelum masehi. Saat itu kota ini disebut sebagai Daratan Phlegraean (berapi) karena rekahan kawah gunung berapi yang banyak ditemui disana.

Lebih dari itu, baia juga dipenuhi oleh berbagai perkembangan teknologi yang cukup pesat, seperti penemuan semen tahan air yang terbuat dari campuran gamping dan batuan vulkanis.

Hal ini mendorong banyak orang kala itu memanfaatkan untuk membuat kubah-kubah raksasa, fasad atau eksterior marmer, kolam ikan, dan kamar mandi yang mewah. Namun reputasi Baia sebagai ‘kota penuh dosa’ dipercaya sebagai legenda yang mendorong aktivitas vulkanik untuk mengakhiri eksistensinya.

Situs arkeologi tersebut baru ditetapkan sebagai kawasan dilindungi pada 2002 setelah dilakukan pemetaan tiga dimensi yang menunjukkan beberapa temuan penting.

Kini akibat gerakan lempeng bumi, kawasan situs sejarah tersebut berada di area yang lebih dangkal, yakni sedalam 6 meter. Hal ini memberikan kemudahan akses bagi turis untuk menikmatinya dari atas perahu berlantai kaca atau videobraca.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here